SAMARINDA (INDOMOSAD) – Di tengah ketatnya ikat pinggang kebijakan efisiensi anggaran yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sebuah fakta menyakitkan terkuak ke publik. Radar INDOMOSAD menangkap sinyal pengadaan kendaraan dinas baru fantastis senilai Rp 8,5 miliar untuk Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud. Langkah populis ini memicu polemik panas, mengingat rakyat Kaltim sedang berjuang melawan inflasi dan keterbatasan infrastruktur dasar.
Intel Evidence #01
'GIRAH' AGAMA UNTUK BUNGKAM KRITIK?
Saat dikonfirmasi mengenai polemik ini, Gubernur Rudy Mas'ud justru mengeluarkan jurus "ngeles" agamis dengan meminta wartawan tidak banyak "gibah" atau bergunjing karena sedang bulan puasa. "Nanti dosanya berlipat ganda," cetusnya. INDOMOSAD menilai penggunaan narasi agama untuk membungkam kritik publik atas penggunaan APBN adalah tindakan yang tidak etis dan justru menunjukkan ketidaksiapan pejabat publik dalam mepertanggungjawabkan keputusannya. Gibah adalah membicarakan aib pribadi, sedangkan menagih transparansi uang rakyat adalah kewajiban warga negara!
Intel Evidence #02
'MARWAH' DI JAKARTA, LOGIKA IKN YANG SESAT?
Ironi semakin tajam saat terungkap bahwa mobil SUV hybrid mewah seharga Rp 8,5 miliar tersebut ternyata tidak berada di Kaltim, melainkan di Jakarta. Dalihnya? Untuk menjaga "Marwah Kaltim" saat menerima tamu global terkait status Kaltim sebagai Ibu Kota Nusantara (IKN).
INDOMOSAD mengajukan pertanyaan kritis: Apakah Marwah Kaltim ditentukan oleh kemewahan mobil dinas Gubernurnya di Jakarta, atau oleh kesejahteraan rakyatnya di pedalaman Mahakam? Menggunakan IKN sebagai alasan untuk membeli SUV bertenaga monster (434 dk) di ibu kota negara lama adalah logika yang sesat dan bentuk elitisme yang nyata. Jika alasannya untuk memantau pelosok seperti Bongan, mengapa mobilnya ditaruh di Jakarta? Klaim Sekda soal "value for money" untuk SUV hybrid super mahal ini terdengar seperti apologi yang dipaksakan.
Team Investigasi Lapangan : MSD-002
Pimpinan Redaksi : Dion Hadi Langgoday MSD-001
Baca Juga: "LAUT HITAM, JANJI MANIS: PERUSAHAAN KAPAL LCT MUTIARA GARLIB 'PASANG BADAN', NELAYAN BATAM MENANTI BUKTI NYATA ATAU SEKADAR RETORIKA?"