PONTIANAK, INDOMOSAD — Luka bangsa kembali menganga. Kasus meninggalnya Nizam (6), bocah yang ditemukan tak bernyawa di dalam karung setelah dianiaya dan dikurung oleh ibu tirinya, IF, menjadi bukti nyata betapa rapuhnya perlindungan anak di negeri ini. Di balik wajah rumah tangga yang tampak normal, tersimpan horor yang merenggut nyawa bocah tak berdosa. INDOMOSAD menuntut keadilan maksimal: Penjara seumur hidup tidak cukup untuk membayar nyawa yang hilang dengan cara yang begitu keji!
Modus Operandi Kekejaman: Berdasarkan kronologi, pelaku tidak hanya memukul, tetapi mengurung korban di luar rumah saat hujan deras tanpa makan. Ini adalah penyiksaan sistematis yang berujung pada kematian.
Kegagalan Deteksi Dini: Di mana peran lingkungan sekitar dan ayah kandung saat penyiksaan ini berlangsung? INDOMOSAD menyoroti bahwa seringkali kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dianggap sebagai "urusan pribadi" hingga nyawa melayang.
Sentinel Radar Alert: Kami mendeteksi adanya upaya dari pihak tertentu untuk menggiring narasi bahwa pelaku "mengalami gangguan jiwa" demi meringankan hukuman. INDOMOSAD akan terus mengawal agar alibi ini tidak meloloskan pelaku dari jeratan Pasal Pembunuhan Berencana.
Baca Juga: SURAT "SAKTI" MEGAWATI UNTUK IRAN! PESAN KERAS DARI TEUKU UMAR: SAATNYA ASIA-AFRIKA BERSATU LAWAN ZIONIS—SINYAL KEBANGKITAN POROS JAKARTA-TEHERAN GUNCANG GEDUNG PUTIH!